
[Rabu, 8 Juli 2009]
Cinta Persegi, Masalah Perempuan Kekinian
JOGJA – Berangkat dari pengalaman para pemain dan pengalaman yang dialami sahabat,
drama Cinta Persegi (Perjalanan Seorang Pelancong) ini tampil di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) pada Senin malam (6/7) yang dipersembahkan oleh Teater Tangga.
Rani (Tita Dian Wulansari), Via (Adefia R), May (Nur Indah Pratiwi), Siska (Widatya Maesarah) dan Shinta (Ambar Puspa Galih) adalah perempuan masa kini yang tinggal satu atap. Via yang seorang artis sedang menjalin cinta dengan Bagus (Dhinar Aryo) yang seorang pesinetron. Sedang Shinta menjalin cinta dengan Rama (Ries Prawisuda) yang seorang pengusaha. Di tempat lain, Siti (Bayu Irawati) seorang gadis desa yang sedang bermasalah dengan ayahnya.
Mereka semua bertemu dalam sebuah acara talk show yang dipresenteri oleh Aji (Rahmad Sekarmadji). Dalam talk show itu pulalah mereka baru menemukan belang pacar-pacar mereka, Rama yang berselingkuh dengan Siska, dan Bagus yang sudah menghamili Siti. Karena konsepnya yang berbentuk talk show, maka drama ini menggunakan live background sound yang dibawakan oleh Ruby Band.
Drama ini adalah sequel dari pentas Celah-Perjalanan Seorang Pelancong yang dipentaskan tahun 2008 lalu di SMA Gajah Mada, SMA N 8, dan SMA Muhammadiyah Tujuh.
“Drama ini mengangkat tema perempuan masa kini, sebuah tema yang meski sudah sering diangkat, masih menarik untuk dibicarakan,” jelas sang sutradara sekaligus penulis naskah drama, MN Qomaruddin yang ditemui usai pementasan.
Tentu saja wacana ini tidak dikemas sembarangan. Mereka sempat berkonsultasi dengan Budi Wahyuni dari Klinik PKBI agar mereka lebih paham dengan wacana dan keadaan perempuan sekarang. Cinta, uang, fesyen, konsumerisme, dan seks adalah gambaran sosok perempuan masa kini yang ditangkap oleh Teater Tangga.
“Mereka (perempuan), tidak memikirkan resiko atas apa yang telah mereka perbuat. Contoh yang banyak sekarang ini, seks diluar nikah yang dapat mengakibatkan kehamilan,” ujar Qomaruddin.
“Yang ingin kami sampaikan dalam drama ini adalah, pertama, masalah media atas eksploitasi perempuan, juga perempuan yang tereksploitasi oleh lingkungannya. Kedua, bahwa drama dan realita itu sangat sulit dibedakan,” sambungnya Qomaruddin. (cw3)
0 comments:
Poskan Komentar