5 September 2009 pukul 16.30 WIB di kolam kedokteran UMY Terpadu. Teater Tangga akan menggelar sebuah pertunjukan sebagai pengantar buka puasa anda.
Cerita Kumbokarno, dalam pewayangan Ramayana dia adalah sosok raksasa atau dalam bahasa jawa disebut buto. Dipaparkan bahwa buto adalah mahkluk dengan rupa yang sangar, menyeramkan, posturnya tinggi besar, warna mukanya merah dengan mulutnya dipenuhi gigi taring yang panjang, mempunyai watak yang beringas, mudah marah dan rakus doyan makan manusia. Tapi lain halnya dengan Kumbokarno, meski berwujud buto namun ia mempunyai jiwa yang luhur.
Saat terjadi perang antara Dasamuka dan Ramawijaya atau antara kerajaan Alengka melawan Ayodia, Kumbokarno berjuang membela Alengka meskipun rajanya mempunyai sifat angkaramurka. Ia berjuang untuk negeri tempat dimana ia lahir, besar, dan dimuliakan oleh rakyatnya. Ia berjuang bukan untuk membela sang kakak yang telah menculik Shinta. Ia berjuang untuk negara meski akan hancur karena dikepung pasukan Rama dan Anoman.
Sekelumit petikan cerita dari kisah Ramayana memberi gambaran tentang rasa cinta tanah air yang diekpresikan oleh tindakan-tindakan Kumbokarno. Mungkin jadi agak sulit untuk di nalar, jika tidak kontekstual. Bayangkan saja Negara dengan penuh angkaramurka dipimpin
oleh raja yang kejam sedang dikepung ribuan pasukan, berantakan disana-sini menandakan sepertinya mau kalah dan hancur tapi masih dibela mati-matian. Sementara ditempat lain menawarkan harapan lebih sejahtera. Tapi begitulah dalam konteks jiwa ksatria, jiwa yang tidak pernah mati. Semangat berkobar-kobar seperti tidak yang bisa dipadamkan.
Dalam kehidupan real modern jiwa ksatria bisa sepadan dengan jiwa nasionalis. Perang merebut kemerdekaan dan perang mempertahankan kemerdekaan menorehkan cerita panjang bagi sejarah berdirinya negeri ini. Meskipun panjang rentang waktunya tapi jelas perjuanganya, jelas berjuang untuk sebuah kedaulatan, untuk sebuah cita-cita. Di era setelah kemerdekaan dan ketika jaman sudah mengglobal seperti sekarang ini. kiranya tidak mudah untuk mengartikan nasionalisme. (Tri Tata Raharja, Sutradara)
Sedikit bocoran, bahwa ada Ta`jil buka puasa. He....
Selamat menyaksikan.
0 comments:
Poskan Komentar